Sebuah Refleksi Hari Guru

Oleh : Rita Kumalasari, Dosen FKIP Universitas Borneo Tarakan

Pendidikan di daerah perbatasan tetap menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat, khususnya di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia. Namun, hingga hari ini, kondisi pendidikan di wilayah perbatasan Kaltara masih menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Keterbatasan akses dan infrastruktur, kurangnya jumlah serta kualitas guru, minimnya teknologi pendukung belajar, dan anggaran pendidikan yang belum sepenuhnya memadai menjadi persoalan yang terus berulang. Pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya. Mulai dari pembangunan sekolah hingga pelatihan guru. Namun, pekerjaan besar untuk mencapai pendidikan yang benar-benar berkualitas masih menunggu untuk diselesaikan.

Guru yang mengajar di wilayah perbatasan hidup dalam situasi yang berbeda dibandingkan dengan rekan mereka di perkotaan. Mereka berhadapan dengan fasilitas pendidikan yang terbatas, kondisi geografis yang menantang, hingga karakter siswa yang beragam. Meski demikian, banyak guru di perbatasan menunjukkan motivasi dan dedikasi yang tinggi. Mereka memilih bertahan bukan karena fasilitas, melainkan karena keinginan untuk berkontribusi dan membuat perubahan nyata dalam kehidupan siswa. Dedikasi itulah yang menjadi kekuatan utama pendidikan di tapal batas, Kaltara.

Keterbatasan sarana seperti minimnya fasilitas sekolah, jaringan internet yang tidak stabil, terbatasnya sumber belajar, hingga kesempatan pelatihan yang belum merata turut memengaruhi pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Meski begitu, sejumlah langkah dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut, antara lain memanfaatkan sumber belajar online yang terbuka dan gratis, menjalin kerja sama dengan komunitas lokal untuk mendapatkan dukungan tambahan, menerapkan metode pembelajaran yang lebih fleksibel, serta mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru.

Guna memperbaiki kualitas pendidikan di wilayah perbatasan, ada tiga hal yang dinilai paling mendesak. Pertama, peningkatan kualitas guru melalui pemberian beasiswa ke jenjang S2 dan S3 agar kapasitas pendidik semakin kuat. Kedua, pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan dan jaringan internet yang memadai, karena tanpa akses fisik dan digital yang baik pendidikan sulit berkembang. Ketiga, pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal, sehingga pembelajaran dapat memberi manfaat langsung bagi siswa dan lingkungannya.

Potensi Kaltara untuk menciptakan model pendidikan perbatasan yang ideal sebenarnya besar. Komitmen pemerintah daerah melalui berbagai program, termasuk Beasiswa Kaltara Unggul, memberi harapan untuk meningkatnya kualitas guru dan sekolah. Selain itu, pengalaman daerah lain yang telah berhasil memperbaiki kualitas pendidikan dapat menjadi referensi untuk diterapkan sesuai konteks lokal Kaltara.

Di momentum Hari Guru Nasional ini, apresiasi patut diberikan kepada seluruh guru yang mengabdi di daerah perbatasan. Dedikasi mereka dalam membimbing siswa di tengah keterbatasan merupakan kontribusi besar bagi masa depan generasi muda. Semoga para guru terus diberi kekuatan dan semangat dalam menjalankan tugas mulia ini.

Selamat Hari Guru Nasional 2025.

Guru hebat, Indonesia Emas.

Tags:hari guru nasionalOPINI