Oleh : Nicky Saputra, Pemred Redaktif.id
Ada kota yang lahir dari rapat. Ada kota yang lahir dari arus. Arus orang, arus barang, arus uang.
Tarakan sejak awal lebih mirip kota jenis kedua.
Ia resmi menjadi kota pada 15 Desember 1997. Itu sebabnya, 15 Desember selalu terasa seperti penanda. Momen menengok ulang arah perjalanan. Kini Tarakan memasuki usia 28 tahun. Dan pertanyaannya sederhana—namun menentukan: Tarakan mau menjadi apa setelah ini?
Kalau kita jujur, DNA Tarakan memang “bisnis” sejak lama. Jauh sebelum kota ini dipenuhi deretan ruko dan jasa pengiriman, Tarakan telah dikenal karena satu hal yang selalu dicari manusia: energi.
Rembesan minyak dan aktivitas eksplorasi pernah menjadikan Tarakan penting. Sangat penting. Terlalu penting, bahkan, sampai membuat pulau ini masuk pusaran perang. Sejarah mencatat Tarakan pernah menjadi wilayah strategis karena minyak dan infrastrukturnya. Kota ini—pulau kecil di tepi utara Kalimantan—pernah menjadi simpul yang diperebutkan.
Dari sini, Tarakan seolah mewarisi watak menjadi tempat singgah. Tempat orang datang. Lalu bergerak lagi.
Nah, kota singgah itu biasanya punya dua pilihan. Tetap menjadi titik transit—ramai tapi sebentar. Atau naik kelas menjadi pusat aktivitas ekonomi—ramai, terarah, dan memberi nilai tambah.
Tarakan hari ini punya modal yang sangat “kota bisnis”. Kota ini hidup dari perputaran sektor-sektor khas urban—perdagangan, konstruksi, transportasi, pergudangan, jasa. Ekonominya bergerak karena ada barang yang keluar-masuk, ada jasa yang melayani, ada proyek yang berjalan, ada pasar yang tumbuh.
Kata kuncinya: konektivitas.
Tarakan bertumpu pada dua pintu utama. Yaitu laut dan udara. Pelabuhan menjadi nadi arus barang—tempat logistik bekerja, tempat kebutuhan daerah terpenuhi, tempat komoditas bergerak. Bandara menjadi paru-paru—menghubungkan orang, layanan, dan peluang yang menuntut kecepatan.
Kota bisnis tidak bissa berdiri tanpa dua hal itu. Tarakan memilikinya.
Tapi begini, memiliki pelabuhan dan bandara saja belum cukup. Kota bisnis bukan soal tempat bongkar-muat saja. Kota bisnis merupakan ekosistem.
Ekosistem berarti urus izin tidak bertele-tele. Biaya logistik tidak liar. Layanan publik tidak “nanti saja”. SDM siap kerja. Kota nyaman dihuni—karena pelaku usaha tidak bisa produktif di kota yang macet urusan dasar mulai dari sampah, air, listrik, transportasi, dan tata ruang.
Di sinilah tantangan Tarakan sebagai kota pulau. Lahannya terbatas, penduduk bertambah, kebutuhan melonjak. Jika tata ruang tidak tegas, Tarakan akan dikejar masalah klasik. Yakni kawasan campur-aduk, jalur logistik tersendat, permukiman tumbuh tanpa arah, dan biaya ekonomi menjadi mahal—diam-diam, tapi terasa.
Karena itu, jika tema besar ulang tahun ini mengajak Tarakan menjadi “handal” dan “inovatif”, ukuran keberhasilannya harus konkret.
Pertama, Tarakan perlu mengunci identitasnya sebagai hub logistik Kaltara—bukan hanya kota yang punya pelabuhan dan bandara, tapi juga kota yang mengintegrasikan keduanya. Jadwal dan layanan harus sinkron. Sistem distribusi pangan dan barang kebutuhan pokok harus lebih rapi. Rantai dingin (cold chain) untuk perikanan dan pangan segar harus diperkuat. Tarakan bisa menjadi titik konsolidasi barang untuk wilayah sekitar—bukan hanya titik transit.
Kedua, Tarakan harus menekan “biaya tak terlihat” dunia usaha soal ketidakpastian. Kota bisnis itu sensitif. Investor dan pelaku UMKM sama-sama butuh kepastia seperti kepastian waktu, kepastian biaya, kepastian prosedur. Kalau semuanya jelas, uang akan berputar lebih cepat. Kalau abu-abu, orang akan mencari tempat lain.
Ketiga, Tarakan perlu menguatkan talenta sesuai kebutuhan kota bisnis gambarannya perdagangan modern, logistik, jasa, hospitality, ekonomi digital. Anak muda Tarakan harus menjadi pemain utama. Jangan sampai yang paling paham peluang justru orang dari luar, sementara warga sendiri menjadi penonton.
Keempat, kota perlu memastikan pertumbuhan tetap terasa sampai bawah. Kota bisnis yang sehat bukan hanya yang besar angkanya, tapi yang memperkecil jarak. Jarak akses kerja, jarak kesempatan, jarak kualitas layanan. Kalau tidak, kota bisa terlihat maju di pusat—tapi rapuh di pinggir.
Tarakan punya cerita panjang. Mulai dari energi yang mengundang orang datang, dari sejarah yang membuatnya strategis, hingga 28 tahun terakhir yang menegaskan perannya sebagai penggerak ekonomi Kaltara.
Tinggal satu hal, yaitu keberanian untuk naik kelas.
Apakah Tarakan akan terus menjadi kota “singgah”—ramai, tapi hanya sekadar lewat? Ataukah Tarakan memilih menjadi Kota Bisnis Kaltara yang memimpin mirip konektivitas rapi, layanan pasti, investasi sehat, UMKM tumbuh, dan warganya ikut menikmati hasilnya?
Ada yang khas dari Tarakan. Selama dipimpin dr Khairul, ia selalu menyempatkan berpantun. Berpantun pembuka. Berpantun penutup. Di hari jadi Kota Tarakan, kali ini saya mau beri pantun kepada pak wali ;
Beli kue putu bunyinya “tuut”,
dimakan hangat enak sekali.
Pak Wali semangatnya jangan surut,
kalau capek ngopi dulu Pak, baru rapat lagi!
Redaktif.id mengucapkan Selamat Hari Jadi ke-28, Kota Tarakan. Saatnya membuktikan diri sebagai Kota Bisnis yang warganya sejahtera dan pemimpinnya amanah. (***)





