Ramadan tak sekadar tentang menahan lapar dan dahaga. Di balik siangnya yang sarat ujian, ada malam-malam yang dipenuhi limpahan rahmat. Di antara amalan yang paling menonjol ialah Shalat Tarawih dan Witir, yakni dua ibadah sunnah yang menjadi penanda hidupnya suasana Ramadan di tengah umat Islam.

Shalat Tarawih memiliki kedudukan istimewa. Ibadah ini bukan hanya rutinitas musiman, namun ada bagian – bagian dari qiyam Ramadan yang dijanjikan ganjaran besar. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang menghidupkan malam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Muslim).

Hadis tersebut menjadi landasan utama keutamaan Tarawih. Dalam penjelasannya, Imam An-Nawawi menerangkan bahwa yang dimaksud dengan “menghidupkan malam Ramadan” adalah pelaksanaan Shalat Tarawih. Ia juga menegaskan bahwa para ulama sepakat atas kesunnahan ibadah ini.

Meski demikian, para ulama berbeda pandangan mengenai cakupan ampunan yang dijanjikan dalam hadis tersebut. Sebagian, seperti Imam al-Haramain, berpendapat bahwa pengampunan itu berlaku untuk dosa-dosa kecil, sementara dosa besar tetap mensyaratkan taubat secara khusus.

Pandangan lain datang dari Ibnu al-Mundzir yang melihat redaksi hadis tersebut bersifat umum. Menurutnya, frasa “dosa-dosanya yang telah lalu” membuka harapan akan ampunan menyeluruh, baik untuk dosa kecil maupun besar. Pendapat ini juga dikutip dalam karya Syamsuddin Ar-Ramli yang menilai bahwa karunia Allah begitu luas dan tidak layak dibatasi tanpa dalil yang tegas.

Perbedaan pandangan itu tidak mengurangi semangat umat untuk menegakkan Tarawih. Justru di situlah terlihat keluasan rahmat Allah SWT, yang memberi ruang harapan bagi setiap hamba yang bersungguh-sungguh menghidupkan malam Ramadan.

Tak lengkap rasanya berbicara tentang malam Ramadan tanpa menyebut Shalat Witir. Ibadah ini menjadi penutup rangkaian qiyamullail dan memiliki keutamaan tersendiri. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah menambahkan bagi kalian satu shalat yang lebih baik daripada unta merah, yaitu Shalat Witir. Allah menjadikannya untuk kalian antara shalat Isya hingga terbit fajar.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Pada masa itu, unta merah adalah simbol kekayaan paling prestisius di kalangan bangsa Arab. Imam Ash-Shan’ani dalam syarahnya menjelaskan bahwa masyarakat Arab sangat memuliakan harta tersebut dan menganggapnya sebagai pemberian paling berharga.

Melalui perumpamaan tersebut, Nabi SAW ingin menegaskan bahwa nilai Witir jauh melampaui kemewahan duniawi. Apalagi di bulan Ramadhan, ketika setiap amal dilipatgandakan, Witir menjadi penutup malam yang sarat makna dan pahala.

Di setiap gerakan Tarawih dan Witir ada pahala – pahala yang mengalir setiap malam Ramadan. Di sana ada harapan akan ampunan, ada doa yang mengalir dalam sunyi, dan ada tekad memperbaiki diri di hadapan Allah SWT.

Ramadan selalu datang dengan kesempatan. Tinggal bagaimana setiap insan memilih, membiarkannya berlalu seperti malam biasa, atau menghidupkannya dengan ibadah yang menjanjikan cahaya hingga akhirat. Wallahu a’lam. (*)

Sumber : NU Online

Tags:ramadan2026