Guru adalah pelita kehidupan. Klise, ya. Tapi justru karena itu ia tak pernah bisa dibantah. Tanpa guru, mungkin saya tak akan bisa menulis kalimat ini. Atau membaca tulisan latin yang sejak kecil kita anggap biasa. Hidup memang sering memberi kita banyak “guru”, tapi hanya sedikit yang benar-benar membentuk kita.
Saya sering ditanya: “Kamu belajar menulis dari siapa?”
Pertanyaan sederhana, tapi jawabannya panjang. Karena menulis tidak datang dari satu orang. Tidak juga dari satu ruang kelas. Ia datang dari rangkaian proses yang kadang menyebalkan, kadang memalukan, tapi justru itu yang membuatnya hidup.
Dalam dunia jurnalistik, tak ada wartawan lahir begitu saja. Bergaul dengan wartawan tidak otomatis membuat seseorang menjadi wartawan. Gaya penulisannya beda. Sentuhannya beda. Cara memandang fakta juga beda.
Hari ini, ketika semua orang ingin cepat, kaidah jurnalistik sering dianggap remeh. Orang lebih senang informasi singkat daripada informasi yang benar. Konfirmasi mulai dianggap penghambat. Akibatnya: gaya menulis kita campur-aduk.
Saya pernah bertanya kepada seorang wartawan muda:
“Apa bedanya opini dan berita?”
Ia menjawab: “Tidak tahu. Yang saya tahu cuma mencari berita dan menulis.”
Jawaban itu polos. Tapi jujur. Dan justru karena itu saya suka.
Toh saya dulu sama saja. Tidak tahu bedanya opini dan berita. Bahkan dulu saya menghindari menulis opini redaksi. Waktu pertama kali mencoba, saya bawa tulisan itu ke seorang senior. Ia baca. Lalu berkata pendek:
“Ini bukan opini redaksi. Ini karangan.”
Pendek, tetapi menohok. Seperti biasa gaya senior-senior redaksi.
Sejak itu saya mulai belajar menulis opini. Belajar kerangkanya. Belajar nadanya. Belajar tegas tanpa menjadi galak. Dan karena saya tak cukup cerdas untuk langsung paham, senior saya memaksa saya memulai dari tulisan yang lebih sulit: feature.
Percobaan pertama, komentar redaktur lain lumayan bikin tersedak:
—terlalu mendayu
—bertele-tele
—bahkan ada yang bilang lebay
Tapi saya teruskan. Sampai akhirnya feature pertama saya dimuat. Meski isinya 70 persen dirombak. Tapi waktu itu saya merasa menang. Sedikit. Setidaknya saya tahu rasa menjadi penulis yang “dimarahi karena diperhatikan.”
Berbulan-bulan belajar opini dan feature membuat saya akhirnya paham apa maksud senior. Kenapa saya mesti dipaksa menulis feature dulu baru opini. Kenapa setelah bisa, saya disuruh membalik: opini dulu, baru feature.
Kadang ia menyuruh saya membaca opini-opini Dahlan Iskan. Mungkin supaya saya belajar mengalir, bukan hanya menulis.
Dari pengalaman itulah saya sadar: gaya tulisan itu tidak diajarkan. Ia tumbuh. Melalui marahnya redaktur, lewat revisi yang tak habis-habis, lewat liputan lapangan yang tidak selalu nyaman.
Dalam satu redaksi pun gaya menulis tidak pernah sama.
Kecuali rilis. Itu pasti seragam.
Tentang opini dan berita, saya sekarang paham betul: keduanya sering berdampingan, tetapi tidak pernah berjalan di rel yang sama.
Berita adalah apa yang terjadi.
Opini adalah bagaimana kita memaknainya.
Berita tidak berpihak.
Opini boleh punya sikap.
Itu pelajaran paling awal dari senior saya.
Pelajaran yang dulu saya anggap rumit, padahal kini terasa sederhana.
Tulisan ini saya persembahkan untuk semua guru jurnalistik—yang pernah mengajari kami bukan hanya tentang menulis, tetapi tentang bekerja. Tentang disiplin. Tentang tidak menyerah hanya karena dikritik.
Guru yang tidak hanya mewariskan ilmu, tetapi juga cara memandang dunia.
Selamat Hari Guru.
Terima kasih untuk semua dedikasi dan ketelatenan—yang mungkin waktu itu saya anggap cerewet, tapi kini saya pahami sebagai bentuk kasih sayang yang paling jujur. (***)
Penulis: Nicky Saputra


ilustrasi jurnalistik 


